Rabu, 26 Mei 2010

MoNas

1. MONUMEN NASIONAL
A. Keadaan Geografis
Monumen Pancasila Sakti terletak di Jalan Raya Pondok Gede, Desa Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Di sebelah timur lokasi Monumen Pancasila Sakti berbatasan dengan Pasar Pondok Gede, Jawa Barat. Di sebelah barat berbatasan dengan TMII. Di sebelah selatan berbatasan dengan Mabes TNI Cilangkap dan Lapangan Halim Perdanakusumah di sebelah utara. Monumen ini didirikan di areal tanah seluas 14,6 hektar.

B. Sejarah
Usaha-usaha untuk menerapkan ideologi komunis di Indonesia tidak pernah berhenti walaupun mendapat tantangan dan rintangan. Para kader PKI melakukan berbagai cara, baik ilegal maupun legal untuk mencapai tujuan mereka yaitu menggantikan Dasar Negara Pancasila dengan ideologi komunis yang bertentangan dengan Pancasila.

Pemberontakan pertama dilancarkan pada tanggal 18 September 1948 di Madiun. Setelah gagal dalam pemberontakan pertama, PKI kembali melancarkan pemberontakan pada tanggal 1 Oktober 1965 yang dikenal dengan nama “Gerakan Tiga Puluh September” (G.30.S/PKI).

Sebagai langkah pertama mereka menculik kemudian membunuh beberapa orang perwira dan pejabat teras TNI-AD yang dianggap sebagai lawan politik. Dalam watu yang relatif singkat pemberontakan tersebut berhasil ditumpas oleh ABRI dan rakyat yang Pancasilais.

Hal itu membuktikan keampuhan dan kesaltian Pancasila. Dari pemberontakan-pemberontakan PKI tahun 1948 dan 1965 itu, maka kita sepakat bahwa komunis merupakan bahaya yang perlu kita waspadai terus-menerus. Bertolak dari kewaspadaan itulah kemudian dibangun Monumen Pancasila Sakti dan Museum Pengkhianatan PKI yang menyajikan berbagai kegiatan makar dan pengkhianatan PKI sejak tahun 1945 sera penumpasannya oleh rakyat Indonesia bersama ABRI.

Dengan memvisualisasikan kisah pemberontakan itu, baik relief pada museum maupun dalam bentuk diorama serta tempat-tempat dan benda yang ada hubungannya dengan pemberontakan, para pengunjung diharapkan akan dapat mengetahui tragadi yang perah menimpa bangsa kita yang dilakukan oleh komunis.

Monumen Pancasila Sakti dibangun selama lima tahun secara bertahap dan mulai dibangun pada pertengahan bulan Agustus 1967 sampai akhir bulan Desember 1972. Dibangun karena gagasan perwira ABRI, yaitu Jenderal Soeharto yang kemudian diresmikan pada tanggal 1 Oktober 1973. Tujuan dan hakekat spiritual pembangunan Monumen Pancasila Sakti adalah sebagai berikut:
1. untuk mengenang jasa pahlawan yang gugur dalam membela negara, bangsa, dan Pancasila sampai titik darah penghabisan
2. membina semangat Korsa dikalangan prajurit TNI
3. monumen peringatan bagi perjuangan nasional
4. cermin perjuangan bangsa Indonesia kepada dunia Internasional.

C. Ekonomi
Monumen Pancasila Sakti merupakan salah satu obyek wisata di daerah Jakarta yang memiliki nilai sejarah tinggi dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Oleh karenanya, obyek wisata ini tidak pernah sepi pengunjung. Hal itu tentunya memberikan kontribusi yang cukup besar bagi keuangan daerah. Kontribusi tersebut berasal dari beberapa tarif yang dikenakan kepada pengunjung. Adapun rincian dari tarif tersebut, sebagai berikut:

1. Karcis masuk
Karcis masuk yang dikenakan untuk setiap orang adalah Rp 1.500,00. Jika rombongan yang jumlahnya lebih dari lima puluh orang memperoleh diskon.

2. Parkir kendaraan
a) mobil bus dan sejenisnya sebesar Rp 5.000,00 per kendaraan
b) mobil sedan dan sejenisnya sebesar Rp 3.000,00 per kendaraan
c) sepeda motor sebesar Rp 1.000,00 per kendaraan

D. Bagian Ruangan Monumen
Monumen Pancasila Sakti terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu:
1. Museum Pengkhianatan PKI
Museum Pengkhianatan PKI dibangun karena gagasan Jendral Tri Sutrisno yang saat itu menjabat sebagai Panglima ABRI dan diresmikan pada tanggal 1 Oktober 1992. Di museum ini terdapat 34 diorama yang menggambarkan pemberontakan-pemberontakan lokal yang dilakukan PKI dari tahun 1945 sampai peristiwa pemberontakan PKI di Madiun beserta penumpasannya, yaitu tahun 1974.

Di dalam Ruang Intro terdapat 3 mozaik foto yang masing-masing menggambarkan kekejaman-kekejaman PKI terhadap bangsa sendiri dalam pemberontakan Madiun, penggalian jenazah korban keganasan PKI dalam Gerakan 30 September 1965 serta pengadilan gembong-gembong G.30.S/PKI oleh Mahkamah Militer Luar Biasa.

2. Museum Paseban (Museum Monumen Pancasila Sakti)
Museum Paseban dibangun karena gagasan Prof. Dr. Nugroho Noto Susanto yang saat itu menjabat sebagai Kepala Pusat Sejarah dan ABRI serta diresmikan pada tanggal 1 Oktober 1981. Di dalam museum ini terdapat sembilan diorama, foto-foto para pahlawan revolusi, ruang relik, ruang teater serta ruang pameran foto. Sembilan diorama tersebut menggambarkan kegiatan-kegiatan PKI mulai dari rapat-rapat persiapan pemberontakan sampai peristiwa pengangkatan jenazah pada tanggal 4 Oktober 1965.

Terdapat juga tujuh foto pahlawan revolusi setengah badan dalam ukuran besar, yaitu foto Letjen TNI A. Yani, Mayjen TNI Soeprapto, Mayjen TNI MT. Hardjono, Mayjen TNI S. Parman, Brigjen TNI D. I. Pandjaitan, Brigjen TNI Soetodjo Siswomihardjo dan Lettu Pierre Andreas Tendean. Sedangkan di ruang relik berisi barang-barang peninggalan para pahlawan revolusi terutama pakaian yang digunakan pada saat beliau gugur.

Di ruangan ini disajikan pula Aqualung yaitu alat bantu penafasan dan sebuah radio lapangan yang pernah digunakan Jendral Soeharto pada saat memimpin penumpasan G.30.S/PKI. Serta di Ruang Teater yang biasa disajikan pemutaran VCD yang berisi rekaman bersejarah sekitar pengangkatan jenazah pahlawan revolusi dari sumur tua di Lubang Buaya, pemakaman ke TMP Kalibata, sidang Mahmilub serta pengangkatan Jendral Soeharto menjadi pejabat Presiden RI pada tanggal 12 Maret 1967. Di ruang pameran foto terdapat foto-foto pengangkatan dan pemakaman pahlawan revolusi TMP Kalibata, Jakarta.

3. Pameran taman
Pameran taman berupa sumur maut, rumah-rumah bersejarah, mobil dinas Men/pangad Letjen TNI A. Yani, mobil dinas pangkostrad Mayjen TNI Soeharto, Truk Dodge, Panser Saraceen serta tugu, patung, dan relief. Rumah-rumah bersejarah itu sendiri terdiri dari tiga bagian, yaitu
a) Rumah penyiksaan milik Bapak Bambang Haryono yang digunakan untuk menyiksa para korban. Rumah ini terbuat dari bilik dan papan dengan ukuran 8mx15,5m. Sebelum pemberontakan G.30.S/PKI meletus, rumah ini digunakan sebagai tempat belajar Sekolah Rakyat (sekarang SD)

b) Rumah Pos Komando milik Haji Sueb yang digunakan untuk persiapan penculikan terhadap enam jenderal dan satu perwira pertama TNI-AD. Di dalam rumah pos komando masih terdapat peninggalan barang-barang asli antara lain: tiga buah lampu petromaks, sebuah mesin jahit, dan lemari kaca.

c) Dapur umum milik Ibu Amroh yang digunakan sebagai tempat penyediaan sarana konsumsi gerombolan G.30.S/PKI di Lubang Buaya.

Ketiga tempat yang terdapat di Monumen Pancasila Sakti tersebut diresmikan oleh Presiden Soeharto.

0 komentar:

Poskan Komentar